KOTA METROPOLITAN
A. Good Bye Bengangon
Pagi itu adalah hari di mana aku
dan keluargaku harus meninggalkan kampung halamanku. Yah, Kampung Bengangon,
kampung yang dipenuhi oleh penduduk yang mayoritas bermatapencaharian sebagai
petani dan peternak. Terletak di
Kabupaten Semarang. Aku dan keluargaku harus pindah ke Jakarta yang letaknya
sangat jauh dari kampung Bengangon. Aku harus pindah karena ayahku mendapat
tugas kerja di sana, jadi , aku dan keluargaku harus ikut pindah ke sana pula.
Itu berarti, aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, meninggalkan rumahku,
meninggalkan kamar tercintaku, meninggalkan sekolahku dan yang pasti adalah
meninggalkan sahabat – sahabatku. Sedih rasanya kalau harus meninggalkan itu
semua. Sahabat yang sejak kecil aku kenal , kini harus aku tinggalkan begitu
saja.
Namaku Zahira Azwa Ramadhana, tapi orang – orang biasa memanggilku Azwa.
Menurutku nama yang diberikan oleh ayah dan ibuku adalah nama yang sangat
bagus. Ya,,, itu dia, Azwa… Azizah dan Wahyu. Azizah adalah nama ibuku, dan
Wahyu adalah nama ayahku. Aku tinggal di sebuah kampung yang bernama kampung
Bengangon. Dan hari ini juga aku harus meninggalkan kampung tercintaku ini,
meninggalkan sahabat – sahabat Bengangon yang sudah sangat dekat denganku. Tak
ingin rasanya aku berpisah dengan mereka, tapi apalah daya , aku harus pindah ke
Kota Metropolitan. Kota yang terkenal dengan macet dan banjirnya itu. Kota
dimana para manusia mengadu nasib, tempat dimana Pak Presiden menjalankan
tugasnya. Entah kenapa aku harus pindah ke kota itu, pernah sekali aku
mengunjunginya, itupun tidak genap satu minggu, hanya beberapa hari saja. Tapi,
sekarang aku harus tinggal dan menetap di sana? Sungguh tak pernah aku
bayangkan sebelumnya.
“Azwa…!!! Tungguu…!!!”
terdengar suara teriakan seorang gadis yang memanggil namaku ketika aku hendak masuk ke dalam mobil yang sudah menantiku. Ternyata itu adalah Ani dan Ana , saudara kembar yang tidak lain lagi adalah sahabat – sahabatku. Ani dan Ana memang sudah menjadi temanku sejak kecil, dari TK sampai SMP kelas 8 ini kami selalu satu kelas. Jadi, tidak heran kalau kami kelihatan sangat dekat dan sangat akrab. Bahkan sudah seperti saudara sendiri.
terdengar suara teriakan seorang gadis yang memanggil namaku ketika aku hendak masuk ke dalam mobil yang sudah menantiku. Ternyata itu adalah Ani dan Ana , saudara kembar yang tidak lain lagi adalah sahabat – sahabatku. Ani dan Ana memang sudah menjadi temanku sejak kecil, dari TK sampai SMP kelas 8 ini kami selalu satu kelas. Jadi, tidak heran kalau kami kelihatan sangat dekat dan sangat akrab. Bahkan sudah seperti saudara sendiri.
“Azwa, tunggu sebentar kami mau
ngomong sama kamu sebentar, sebelum kamu meninggalkan kami…” ucap Ana.
“Iya Sa..” sahut Ani mengiyakan.
“Ana.. Ani… ada apa? Bukankah
kalian seharusnya berlibur ke rumah kakek dan nenek kalian?”
“Sebenarnya sih rencana kami pergi
ke sana kemarin, tapi setelah kami mendengar bahwa kamu akan pindah ke Jakarta
hari ini, jadi kami menyempatkan waktu kami sebentar buat ketemu kamu Wa…” jelas
Ana dengan panjang lebar dengan nafas terengah - engah.
“Makasih ya kawan, kalian emang
sahabat aku yang paling baik."
“Wa… kalau kamu udah nyampe sana,
jangan lupa kabarin kami ya? Dan jangan lupakan kami”
“Pasti dong..!! kita kan sahabat
bagai kepompong …”
“Oleh – oleh nya juga ya Wa.. hehe
“ canda Ani. Ani memang anak yang lucu. Gaya bicaranya yang lucu itu, membuat
orang yang ada di sekelilingnya ikut tertawa.
“Iya .. iya… kapan – kapan aku
bawain oleh – oleh kalau aku kembali ke sini…”
Hening seketika.
“Emmmhh.. ya udah deh. Aku pamit
yaaa? Doakan aku supaya selamat sampai tujuan.”
“Amiiinnn” ucap Ana dan Ani
serempak.
Setelah beberapa menit berbincang
– bincang akhirnya tibalah waktuku untuk segera meninggalkan kampung Bengangon.
Ayah dan Ibu sudah menungguku di mobil yang sudah siap membawaku ke kota
metropolitan itu. Aku pun segera bergegas menuju ke mobil yang sudah menunggu
diriku. Lambaian tangan dari kedua sahabatku mengiringi kepergianku. Aku terus
memandangi mereka sampai mereka terlihat mengecil , mengecil dan kemudian
hilang. Dalam hati, aku berharap hari ini bukanlah terakhir kalinya aku bertemu
mereka. Aku berharap, suatu saat nanti aku bisa kembali ke sini dan bisa berkumpul
dengan sahabat – sahabatku lagi.
Perjalanan dari Kampung Bengangon
ke Jakarta memakan waktu lebih dari 12 jam. Bagiku, duduk diatas kursi mobil
selama 12 jam serasa duduk di atas wajan penggorengan. Tak ada pemandangan alam
yang aku lihat selama perjalanan, hanya mobil dan gedung – gedung yang aku
temui. Bosan rasanya, apabila hanya duduk dan memandangi pemandangan yang hanya
membuat mataku perih. Tak ada hiburan, kecuali… HP.
Ku buka resleting tas kecilku yang
masih aku sandang dipundak, tas kecil berwarna hitam bertuliskan namaku dan berlogokan “Kontingen Rembang, JAMDA XIII Karanganyar”. Melihat logo berwarna
kuning yang sudah agak pudar itu, aku teringat kembali dengan kegiatan JAMDA
waktu kelas 7. Kegiatan dimana aku bisa mendapatkan ribuan teman, membuat aku
mandiri, dan membuat aku untuk lebih mencintai pramuka. Baru sebentar aku
bernostalgia dan membayangkan kegiatan itu terulang kembali, tiba – tiba HP di
dalam tasku bergetar dan menderingkan lagu “Cinta Sejati- BCL”. Ya aku memang
suka dengan lagu itu, simple aja sih alasannya kenapa aku suka lagu itu. Sesuai
dengan lirik lagunya “Sehingga siapapun insan
Tuhan, pasti tahu cinta kita sejati” . itu yang aku inginkan, aku ingin punya cinta
yang sejati, cinta yang penuh sejarah, seperti kisah cinta Pak Habibie dan Bu
Ainun :) .
Deringan lagu itu berhenti setelah
aku membuka pesan itu, aku berpikir bahwa itu adalah pesan dari kedua
sahabatku, dan ternyata setelah aku buka…. Dugaanku ternyata salah, itu bukan
dari Ana ataupun Ani, melainkan hanya dari operator.
“Huft… aku kirain dari sahabatku,
eh ternyata dari operator. Heran deh, dari kemarin nih operator sms aku mulu…
ngefans sama aku ya? Mana dibales nggak bisa lagi. Udah deh, gak usah sms aku
lagi, gak tau kalau aku lagi boring apa?” gumamku.
Sudah satu jam lebih aku melototi
HPku sampai mataku menciut, tapi tetap saja tak ada satu pesan pun yang masuk.
Tak ada deringan lagu BCL lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur, dari pada
HP nanti lowbat. HP aku masukkan kembali ke dalam tas, dan aku mencoba untuk
tidur. Segala macam bentuk posisi tidur telah aku coba, dari duduk biasa, kaki
aku angkat ke atas kursi, sampai membaringkan tubuhku diatas 3 kursi panjang,
namun tetap saja mataku tidak bisa menutup. Padahal, mataku sudah sangat lelah
dan mengantuk. Setelah sekian lama aku mencoba untuk tidur, akhirnya akupun
tertidur lelap sampai malam hari. Setelah makan malam, aku pun melanjutkan
perjalanan lagi. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Dan kejadian tadi
siang pun terulag kembali. Sampai pukul 23.00 aku belum juga tidur. Tapi aku
memaksakan diri untuk tetap tidur, karena kalau tidak, esok harinya pasti bakalan pusing, kalau nggak ya masuk
angin. Ahhh…. Sungguh hal yang sangat tidak aku inginkan. Entah karena apa,
tiba – tiba aku sudah tertidur pulas kembali.
Percikkan air, tetes demi tetes
jatuh di atas wajahku. Aku kira itu adalah air hujan yang menerobos kaca
mobilku, tapi sungguh mustahil kalau air bisa menembus kaca. Aku pun segera
bergegas untuk bangun dan melihat apa yang terjadi. Dan ternyata…. Itu adalah
percikkan air mineral yang sengaja dijatuhkan ke atas wajahku oleh ibuku.
Ahhh…. Ingin marah aku rasanya.
“Ahhh…. Ibu… kenapa harus
dipercikki air sih? Aku kira hujan tahu!! Lagi enak – enak mimpi indah kok
diganggu…” ucapku dengan wajah sedikit kesal.
“Hehe…. Bangun… kita sudah sampai
Jakarta. Nanti kita ke masjid istiqlal dulu untuk sholat shubuh” jelas ibu
dengan wajah yang masih berkilau meskipun semalam belum sampai mandi.
Ahh… senang dan bingung rasanya.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka gorden kaca mobilku dan melihat
pemandangan sepanjang jalan. Dan ternyata apa yang aku bayangkan sebelumnya
tidak seperti apa yang aku lihat saat ini, jalan yang bersih, tak ada air yang
menggenang, tak ada mobil yang terlantar di jalan. Yang ada hanyalah gedung –
gedung pencakar langit yang masih dihiasi oleh lampu – lampu yang bersinar
terang penuh warna. Aku pun bertanya – tanya, kenapa kota metropolitan yang
dulu bising, sekarang menjadi sunyi?
“Ayah… dulu waktu aku pertama kali
ke Jakarta sangat bising sekali, macet dan banjir dimana – mana. Tapi, sekarang
kok jadi sepi begini? Aneh kan?”
Ayah hanya tersenyum mendengar
pertanyaanku yang konyol itu. Apalagi sambil menatap mukaku yang sudah acak –
acakan karena baru bangun tidur. Setelah menatapku, ayah pun mulai membuka
mulutnya dan melontarkan kata demi kata untuk menjawab pertanyaanku.
“Azwa…. Jakarta itu masih sama
seperti waktu pertama kali kamu ke sini. Tapi, sekarang kamu lihat deh, ini jam
berapa? Masih jam 4 kan? Orang – orang masih pada tertidur pulas, belum ada
yang berangkat kerja, dan kalaupun ada itu adalah para pedagang yang tidak
banyak menggunakan mobil sehingga jalannya tidak macet. Coba nanti lihat ketika
hari sudah pagi, pasti kemacetan sudah terjadi dimana – mana, karena para
pegawai sudah mulai berangkat kerja ke kantornya. Nah, kalau masalah banjir,
ini kan memasuki musim kemarau, jadi curah hujan sangat sedikit.” Jelas ayah
panjang lebar.
Aku hanya bisa tersenyum malu
sendiri di depan ayah. Mengapa aku tidak sampai berpikir sejauh itu? Ya Tuhan..
apa sih yang ada di pikiranku sekarang? Apa gara – gara terlalu banyak tidur?
Sampai – sampai aku tidak bisa berpikir secara logika tentang hal yang konyol
itu. Ahhh sudahlah, abaikan saja.
Akhirnya, tepat pukul 04.30 aku
sampai di masjid Istiqlal. Setelah sholat subuh, tubuhku serasa fresh kembali,
pikiran yang sempat hilang melayang entah kemana kini sudah kembali memenuhi
otakku lagi dan membuat diriku menjadi diriku seutuhnya kembali, dn semua
masalah – masalah yang ada di pikiranku serasa telah dibuang jauh – jauh dariku
dan tak akan mungkin bisa kembali lagi. Sungguh membuat hatiku benar – benar
serasa jernih kembali, terima kasih Tuhan… aku percaya Engkau selalu bersamaku,
maka lindungilah aku selama aku di Kota Metropolitan ini.
Setelah usai sholat subuh, aku
segera menuju ke mobil dan melanjutkan perjalananku kembali. Kini, aku sudah
tidak merasa bosan lagi untuk duduk di
kursi yang empuk, meskipun tidak selembut kasur tidurku di Bengangon. Tapi,
perasaan bosan yang dari kemarin aku rasakan ketika duduk di kursi ini pun
hilang, dan tiba – tiba berubah seakan – akan aku sedang duduk di atas kursi
seorang putri yang sedang menikmati keindahan istananya. Betapa bahagianya
putri itu.
Untuk menuju ke rumah baruku,
membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Aku kurang begitu tahu dimana nanti aku akan
tinggal. Aku membayangkan kalau rumahku itu tidak akan mungkin seperti rumahku
di Bengangon. Rumah yang dikelilingi oleh pohon melinjo, dan dihiasi harumnya
bunga mawar dan melati khas Bengangon. Mungkin, rumah yang akan aku tempati
adalah rumah yang hanya dipenuhi oleh pohon cemara yang tandus, bahkan mungkin
bunga atau pohon dari plastik. Sungguh… aku tak bisa membayangkan, apakah aku
akan betah tinggal di rumah yang tidak beroksigen itu? Tiba – tiba mataku yang
tadi bersinar, kini kembali meredup setelah membayangkan rumah baruku tadi.
Tapi itu hanya bayanganku bukan? Itu belum nyata. Jadi positif thinking aja
deh. :)
Akhirnya, aku pun tiba di rumah
baruku. Di Perum. Sapta Nawa, Jl. Soekarno, No. 22, Jaktim. Itulah alamat
baruku, sangat asing bagiku. Tapi, apa boleh buat? itulah rumahku sekarang. Dan
setelah turun dari mobil, aku pun terkejut melihat rumah baruku. Sungguh… aku
tak tahu lagi harus berkata apa. Ayah dan Ibu benar – benar pandai member
kejutan buat aku. Rumah yang indah, melebihi indahnya rumahku dulu di
Bengangon. Sungguh asri dan sejuk, sekelilingnya dipenuhi taman bunga dan pohon
– pohon yang tumbuh subur. Ini adalah istana bagiku. Sungguh… aku tak tahu bagaimana
caranya mengungkapkan isi hatiku ini kepada ayah. Mata yang semula redup, kini
kembali bersinar terang, bahkan melebihi sinar bintang di malam hari. Beribu –
ribu terima kasih aku ucapkan kepada ayah dan ibuku, yang selalu mengerti dan
memahami keinginanku.
“Wa,,, ayah dan ibu tahu, kalau
kamu sangat berat sekali melepaskan Bengangon. Oleh karena itu, ayah nggak
ingin melihat kamu sedih lagi. Dengan rumah baru ini, ayah tahu apa yang kamu
inginkan. Rumah baru ini, akan selalu mengingatkan kamu dengan Bengangon.
Semoga kamu betah ya?” jelas ayah.
“Makasiih ayah :) “
Kaki kanan aku pijakkan ke depan
pintu pagar rumah, sebelumnya aku terlebih dahulu mengucapkan do’a. Agar Tuhan
memberkatiku untuk tinggal di sini. Pintu pagar mulai aku buka dengan sangat hati
– hati. Suara halus terdengar dari gesekan roda pintu pagar. Aku, ayah, dan ibu
segera memasuki rumah baruku. Harum bunga melati sudah tercium ketika aku akan
memasuki pintu utama. Suara berdecit terdengar dari gesekan antara pintu dengan
lantai, seperti baru saja selesai dipel. (Bersambung......)
*Nantikan lanjutan ceritanya :)
walah....
BalasHapusapa apa apa?
BalasHapusblog baru nih =D...
BalasHapus