Sabtu, 03 Agustus 2013

Asal Usul Desa Dresen

Nih, Sob.. salah satu cerita legenda buatan saya :) Simple sih,, soalnya baru coba - coba... :D


ASAL USUL DESA DRESEN

       Pada zaman dahulu, ada sepasang kakak adik. Namanya Kopo dan Kenthiri. Warga desa sering menyebutnya Maling Kopo dan Maling Kenthiri. Karena pekerjaan mereka sehari-hari adalah maling. Meskipun mereka saudara kandung, tapi mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Si kakak, yaitu Maling Kopo memiliki sifat yang dermawan, meskipun dia memiliki hasil curian yang sangat banyak, tapi dia tidak egois, artinya dia tidak menggunakan hasil curiannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan disumbangkan kepada tetangganya yang kurang mampu dan membagi hasilnya dengan adiknya. Tapi, lain dengan adiknya, yaitu Maling Kenthiri, ia sama sekali tidak mau membagi hasil curiannya dengan orang lain, dengan kakaknyapun dia tidak mau berbagi. Tapi, bagaimanapun kedua maling tersebut sama-sama tidak memiliki sifat yang terpuji, karena mereka sama-sama maling. Mereka adalah maling yang boleh dibilang maling kelas kakap.  Karena, meskipun mereka sering tertangkap, mereka tidak pernah kapok dengan hal yang dilakukannya. Hingga pada suatu hari, ketika mereka berdua sedang maling di sebuah rumah saudagar yang kaya raya, mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik yang sedang tidur. 

Akhirnya, mereka mempunyai niat untuk menculik gadis itu. Tapi, mereka malah ketahuan oleh keluarga tersebut, hingga mereka dikejar-kejar oleh warga di desa tersebut. Tapi, tetap saja warga tidak bisa menangkap kedua maling itu, karena Maling Kopo dan Kenthiri larinya sangat kencang, layaknya kereta express. Hingga kedua maling tersebut merasa sangat lelah dan haus. Ketika mereka sedang berusaha mencari air , mereka menemui seorang pria tua yang sedang menyadap legen. Mereka menyebutnya nderes legen. Nama penyadap legen tersebut adalah Pak Rahmat. Mereka meminta legen kepada Pak Rahmat, dan mereka berjanji akan membayarnya berapapun harganya. Karena mereka merasa memiliki uang dan harta yang banyak, setelah merampok rumah saudagar kaya raya tadi. Dan Pak Rahmatpun percaya akan omongan kedua pemuda tersebut, karena Pak Rahmat tidak tahu kalau kedua pemuda tersebut adalah maling. 10 bumbung legen telah mereka habiskan. Pak Rahmat hanya bisa melongo dan kagum dengan kedua pemuda tersebut. Ketika pemuda tersebut telah selesai minum legen, Pak Rahmatpun menagih uang mereka. 

Tapi, ketika mereka akan membayar legen tersebut, tiba-tiba Kopo dan Kenthiri kaget. Karena ternyata, uang hasil rampokan mereka tadi tidak ada. Mungkin uang mereka jatuh ketika sedang dikejar warga. Akhirnya Pak Rahmatpun marah kepada mereka. Karena untuk membuat satu bumbung legen saja, butuh waktu 3 hari 3 malam. Dan harganya pun juga mahal. Tapi, maling Kopo dan Kenthiri tetap tidak mau membayar. Akhirnya terjadilah pertengkaran antara Maling Kopo dan Kenthiri dengan Pak Rahmat. Tapi, Maling Kopo dan Kenthiri tidak bisa menahan emosi mereka. Dan karena mereka sakti, maka dengan mudahnya mereka bisa membunuh Pak Rahmat. Ketika mereka membunuh Pak Rahmat, disaksikan oleh semua warga yang tadinya mengejar Maling Kopo dan Kenthiri. Warga semakin marah karena kedua maling tersebut telah membunuh tetangga mereka, seseorang yang dianggap paling sepuh di desa itu. Lalu, ketika kedua maling itu melihat bahwa warga semakin marah, maka mereka kemudian lari dan meninggalkan desa tersebut. Tapi, sebelum lari , mereka sempat berpesan “ Apabila memang orang yang aku bunuh ini sangat terhormat bagi kalian, maka untuk mengenangnya , jika suatu saat desa ini menjadi ramai dan padat penduduknya, maka akan aku beri nama DRESEN, dari kata nderes dan legen. Karena orang yang aku bunuh ini pekerjaannya nderes legen”. 

Setelah menyampaikan pesan tersebut, kedua maling tersebut akhirnya pergi dan lari sangat kencang sekali, sampai-sampai warga tidak bisa melihat mereka dalam sekejap. Akhirnya lama-kelamaan desa tersebut menjadi ramai dan padat penduduknya. Dan mereka memberi nama desa tersebut, Desa DRESEN. Yaitu, dari kata “nderes” atau menyadap dan “legen”. Karena mayoritas penduduk desa itu bekerja sebagai penyadap legen. Dan sampai sekarang desa tersebut dinamakan desa Dresen, terletak di dekat Desa Tasikharjo, Kec. Kaliori, Kab. Rembang.

Sekian dan Terima Kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar